Siapa yang tidak kesal dengan bau minyak goreng yang menyebar ke seluruh ruangan setiap kali menggoreng ikan? Atau uap panas yang membuat dapur terasa seperti sauna? Dua pertanyaan itulah yang mendorong sebagian besar pemilik rumah untuk memasang perangkat ventilasi di dapur. Masalahnya, pasar menawarkan dua pilihan yang seolah bersaing: kitchen hood yang elegan dan mahal, atau exhaust fan yang sederhana dan terjangkau.
Keduanya memiliki fungsi yang sama, yaitu mengalirkan udara kotor keluar. Namun cara kerjanya sangat berbeda, dan perbedaan itulah yang menentukan mana yang cocok untuk dapur Anda.
Bagaimana Kitchen Hood Bekerja Menghisap Asap dan Bau?
Kitchen hood dipasang tepat di atas kompor, seringkali hanya berjarak 65 hingga 75 sentimeter dari permukaan masak. Posisi ini bukan tanpa alasan. Uap, asap, dan partikel lemak yang naik dari wajan langsung tersedot masuk ke dalam canopy (tudung) sebelum sempat menyebar ke seluruh ruangan.
Di dalam unitnya, terdapat motor bertenaga tinggi yang mampu mengalirkan udara dengan kapasitas besar, biasanya diukur dalam satuan m³/jam. Udara kotor ini kemudian disaring melalui filter mesh berbahan aluminium untuk menangkap partikel lemak, lalu dibuang ke luar melalui saluran pipa yang terhubung ke dinding atau plafon.
Apa Kelemahan Exhaust Fan untuk Dapur yang Intensif?
Exhaust fan standar dipasang di dinding atau plafon dapur, jauh dari sumber asap. Ini adalah kelemahan terbesarnya. Asap dari kompor harus menempuh perjalanan lebih jauh sebelum terhisap, sehingga sebagian besar sudah keburu menyebar dan mengendap di permukaan dinding, plafon, dan perabotan terdekat.
Exhaust fan cocok untuk dapur yang digunakan secara ringan (memasak sesekali dengan api kecil) atau sebagai sirkulasi udara tambahan. Namun untuk dapur yang aktif memasak goreng-gorengan atau masakan berbumbu kuat setiap hari, kemampuannya seringkali tidak memadai.
Mana yang Lebih Hemat Listrik antara Hood dan Exhaust Fan?
Dari sisi konsumsi daya, exhaust fan jelas lebih irit. Daya yang dibutuhkan biasanya hanya 15 hingga 30 watt. Sebaliknya, kitchen hood dengan motor bertenaga tinggi bisa mengkonsumsi 150 hingga 250 watt atau lebih, tergantung pada jumlah kecepatan dan kapasitas hisapnya.
Namun, perlu dipertimbangkan juga frekuensi dan durasi penggunaannya. Kitchen hood hanya dinyalakan saat memasak dan dimatikan setelahnya. Sementara exhaust fan kadang perlu dibiarkan menyala lebih lama untuk membersihkan udara dapur yang sudah terlanjur kotor. Selisih biaya listriknya mungkin tidak sebesar yang Anda bayangkan.
Apakah Kitchen Hood Butuh Saluran Pembuangan ke Luar?
Ada dua jenis kitchen hood: tipe ducted (tersalur) dan tipe ductless (tanpa saluran). Tipe ducted membuang udara keluar melalui pipa, sementara tipe ductless menyaring udara menggunakan filter karbon aktif dan mengalirkan kembali udara bersih ke dalam ruangan.
Tipe ducted jauh lebih efektif karena benar-benar membuang uap panas dan kelembapan keluar. Namun, tipe ductless lebih mudah dipasang karena tidak memerlukan instalasi pipa tambahan yang membobok dinding. Pertimbangkan tata letak dapur Anda sebelum memilih mana yang lebih sesuai.
Kesimpulannya, jika Anda memasak secara intens setiap hari dan menginginkan dapur yang bersih dari lapisan lemak, kitchen hood adalah investasi yang jauh lebih tepat meski harganya lebih tinggi. Namun jika dapur Anda dipakai secukupnya dan budget adalah prioritas, exhaust fan tetap menjadi solusi yang fungsional dan terjangkau.





